Movie Review

Romulus, My Father (2007) : Sebuah Autobiografi Cinta Sejati dan Cinta Buta Seorang Ayah


Judul Film: Romulus, My Father. Pemain: Eric Bana, Faranka Potente, Marton Csokas, Kodi Smit-McPhee, Russel Dykstra. Sutradara: Richard Roxburgh. Genre: Drama

Romulus menghangatkan lebah yang sekarat dan hampir mati dengan sebuah lampu. Raimond anaknya, ikut mengamati apa yang dilakukan ayahnya. Entah sulit untuk dimengerti, namun Romulus percaya hanya dengan menghangatkan lebah-lebah yang sekarat itu dengan lampu, ternyata mampu menghidupkan kembali mereka dari pesakitan.

Sungguh opening yang dibingkis dengan cukup puitis, karena membuat penasaran mengapa adegan ini juga disisipkan di akhir film, pastilah menyiratkan pesan yang penting. Romulus, My Father sendiri merupakan kisah memoar seorang Romulus Gaita, ayah dari filsuf Austalia bernama Raimond Gaita. Dimana diangkat dari novel dengan judul yang sama dan dikarang sendiri oleh Raimond Gaita.

Mengambil setting sekitar tahun 40-an, Raymond tumbuh menjadi anak laki-laki yang ceria dan pintar di sebuah farmhouse di Frogmore. Raimond sendiri menjadi korban perceraian orangtuanya. Romulus, ayahnya harus membanting tulang sendiri untuk mencukupi kebutuhan Raimond. Terkadang bertani di ladang orang, beternak, hingga pekerjaan pande besi pun disambangi. Sementara ibunya, yang bernama Christina namun sering dipanggil Mitu oleh Raymond adalah wanita yang terombang-ambing dan berkarakter buruk. Ya, sangat buruk, bagaimana kejamnya dia mampu berselingkuh dengan teman suaminya sendiri bernama Mitru. Bahkan dirinya tidak segan membawa selingkuhannya tersebut ke rumah Romulus. Romulus yang masih mencintai tulus istrinya (tidak habis pikir) masih welcome dengan sifat buruk mantan istrinya yang telah meghancurkan hatinya berkeping-keping itu. Wow, mungkin ini bisa dikatakan cinta mati atau paling buruknya cinta buta.

Tetap risih melihat kelakuan biadab Christina, bagaimana setelah kelahiran putrinya, hasil hubungannya dengan mitru keanehan sikap Christina makin menjadi-jadi. Saya sendiri menangkap karakter Christina memang materialistis, sepertinya dia meninggalkan Romulus karena kondisi finansial mereka yang kurang. Dan kini setelah dia menikah dengan Mitru dan melahirkan anak, sikapnya seperti itu masih saja keluar. Dimana, terdapat beberapa adegan yang memperlihatkan Christina yang tidak peduli (acuh tak acuh) dengan keberadaan putrinya itu. Dia enggan mengurusi putrinya, bahkan sekalipun putrinya tersebut menangis kencang, tetap saja tidak dipedulikan. Malah Raimond yang mengurusi anak Mitunya tersebut ketika dirinya berlibur di rumah ayah tirinya tersebut. Mungkin karena saking putus asanya dan sudah tidak tahan dengan sikap Christina dan kehidupan rumah tangganya yang runyam, Mitru (-selingkuhan Christina) pun terjun bunuh diri. Berselang beberapa minggu kemudian, Christina pun ikut-ikutan bunuh diri karena menganggap Raimond tidak mau memaafkan sikap buruk dirinya. Atas kematian Christina itu pun, seketika Romulus mengalami guncangan jiwa. Raimond pun sempat syok dan tidak menerima keadaan yang menimpa ayahnya, apalagi tiba-tiba Romulus tidak mengenal Raimond sebagai anaknya. Sangat runyam!!!!!

Untuk masalah akting, saya lebih menyoroti peran Eric Bana sebagai Romulus. Ya, tidak terlalu mengecewakan menurut saya untuk akting dalam film bergenre drama, meski Munich masih merupakan film yang lebih banyak menggali kualitas peforma Bana. Masih ada yang mengagumkan di film ini, Richard Roxburgh sebagai sutradara menawarkan pemandangan ladang pertanian di sebuah desa kecil daerah Frogmore era 40-an yang begitu mengagumkan, dengan penataan artistik dalam hal warna sepia sangat menawan. Karena film ini merupakan autobiografi berdasarkan kisah nyata, jadi bagi yang agak kesal dengan jalan ceritanya harus dimaklumi saja karena memang begitu adanya.

Nilai plus lagi, saya sangat suka endingnya karena bertautan dengan openingnya yaitu memakai filosofi ‘menghidupkan-lebah-sekarat’. Memang agak bingung menafsirkan artinya, kemungkinan maksudnya ‘Di segala rasa sakit dan penderitaan yang teramat, itu bukan akhir segalanya, tapi awal menuju terang dan hidup baru’. Semoga tafsiran saya tidak salah!!

One thought on “Romulus, My Father (2007) : Sebuah Autobiografi Cinta Sejati dan Cinta Buta Seorang Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s