Movie Review

A Serious Man : Seriusnya Bikin Pusing…


Judul Film : A Serious Man. Pemain : Michael Stuhlbarg, Richard Kind, Sari Lennick, Aaron Wolf, Jessica McManus. Sutradara : Joel Coen, Ethan Coen. Genre : Komedi
Stars : 3 1/2

Ketika membaca review untuk first look film terbaru Choen bersaudara saya sangat excited sekali. Belum lagi mengingat betapa suksesnya dua bersaudara ini mengantarkan No Country For Old Man meraih film terbaik Oscar dua tahun yang lalu, tentunya berekspektasi besar akan kualitas film terbarunya ini. Apalagi membaca jejeran cast-nya bukanlah aktris dan aktor terkenal. Oke, itu kesan awal saya sebelum menonton film ini. Tapi setelahnya, saya benar-benar dibuat pusing akan maksud dari cerita film ‘A Serious Man’ ini. Semakin saya menjadi a serious man ketika menonton film yang dimaksudkan bergenre komedi ini, makin pula saya stress dan ingin minum aspirin (lebay*). Jadi mohon maaf, hanya sekelumit ini yang bisa saya tangkap untuk meresensikan alur ceritanya.

Film A Serious Man berkisah tentang kehidupan Larry Gophnik (Michael Stuhlberg) yang sehari-harinya berprofesi sebagai professor fisika Yahudi yang tinggal di pemukiman Yahudi kelas menengah di daerah Minneapolis pada tahun 1967. Tiba-tiba muncul beberapa rentetan permasalahan yang mengusik hidupnya yang pada awalnya baik-baik saja. Mulai dari Istri Larry yang bernama Judith (Sari Lennick) yang secara terang-terangan minta diceraikan , karena dia telah mencintai lelaki lain yang bernama Sy Ableman (Fred Melamed). Dimana Larry entah kenapa menjadi lemah dan tidak mampu meluapkan emosinya. Padahal jika anda yang mengalami di posisi Larry, pastilah sudah meledak amarah dan menghajar selingkuhan istri anda. Anehnya lagi, malah Larry diintervensi oleh Judith dan Sy yang dengan kata-kata sok bijaknya menendang Larry keluar rumahnya sendiri dan terpaksa menginap di motel dengan adiknya, Arthur.

Belum habis sampai disana, Larry juga dihadapkan oleh kelakuan seorang mahasiswa Korea yang ingin menyuap Larry agar dia mau meluluskan mahasiswa tersebut dari matakuliah fisikanya. Karakter mahasiswa Korea ini sangat konyol, dimana raut mukanya ketika berbicara dengan bahasa inggris bercampur dialek Korea tampak tanpa ekspresi komplit datar. Malah mahasiswa ini menaruh amplop yang berisi uang di meja Larry dan langsung kabur. Keesokan harinya, ketika dia dipanggil lagi oleh Larry, mahasiswa ini tidak mengaku kalau dia yang meninggalkan uang itu di meja Larry. Permasalahan menjadi sangat aneh, ketika Larry dituduh memfitnah mahasiwa tersebut oleh ayahnya dan dia pun diancam jika tidak mau meluluskan mahasiswa Korea tersebut, kasusnya bakal maju ke meja hijau.

Larry pun makin pusing setengah mati, ketika harus menghadapi tingkah laku kedua anaknya yang buruk. Danny (Aaron Wolf) yang ternyata nakal di sekolahnya dan lagi menabung hutang untuk ayahnya dikarenakan dia berlangganan kaset rekaman setiap bulannya. Sarah (Jessica McManus) yang meupakan putri Larry diam-diam juga mencuri uang Larry untuk operasi plastik. Ditambah Larry juga begitu prihatin dengan keadaan adiknya, Arthur (Richard Kind) yang pengannguran dan hanya makan-tidur kerjaannya di rumah Larry. Karakter Arthur sangat sulit saya tebak, apakah dia orang idot atau memang gelagatnya yang memang aneh, itu masih membuat saya penasaran.

Dan untuk mencari solusi dari segala persoalannya yang rumit, Larry pun mencari nasehat dari tiga Rabbi (pendeta Yahudi) yang berbeda. Namun, yang saya lihat malah rabbi-rabbi tersebut bukannya mampu memecahkan pesoalan Larry, malah membuat Larry dan saya bingung enggak karuan. Joel dan Ethan Coen membungkus film ini sebenarnya ke genre yang lebih komedi hitam satir, yang tengah menyindir kehidupan manusia. Coen bersaudara pun dengan brilliant-nya menilik komunitas yahudi yang notabene sangat khusus dan tidak banyak di Amerika. Saya semakin risih dengan embel genre komedi yang ditawarkan, karena sama sekali saya tidak menemukan gurauan yang dimaksud sekalipun itu garing. Penontonnya memang diharapkan menemukan kesan humor ituj sendiri, karena memang pesan-pesan yang disiratkan bentuknya sangat satir dan tentunya humor yang cukup berat buat kaum awam. Perpaduan kesan hitam pada setiap permasalahan Larry di setiap scene-nya dan juga score klasik nan menggelitik mampu memberi estetika yang ajib untuk film ini.

Penampilan Michael Stuhlbarg patut diacungi jempol dengan memerankan karakter Larry. Dimana, dia mampu membangun ketenangana, kepanikan, kebingungan dan depresi menjadi paduan yang membuat saya pusing menganalisa tingkah lakunya. Michael Stuhlbarg sebelumnya lebih sering bermain di atas panggung drama dan sempat memenangkan Tony Award dan berkat karakternya sebagai Larry Gopnik, mengantarkan Michael ke ajang penghargaan kelas film festival. Terakhir Michael dinominasikan sebagai actor terbaik kategori film komedi dalam ajang Golden Globes.

Oya, yang menjadi sorotan saya dalam film ini selain cerita dan karakter pemainnya adalah fashion di tahun tersebut. Entah saya menjadi amat tertarik, ketika kacamata minus yang anggota keluarga Larry dan warga sekitarnya pakai ternyata modelnya seragam. Mungkin sedang trend ya pada tahun tersebut!!!.

Saya masih penasaran dengan maksud film Coen bersaudara ini, apa maksud judul A Serious Man dalam film ini. Apa mungkin maksudnya karakter Larry tersebut harus menjadi seorang pria yang serius dalam menyikapi segala persoalan hidupnya???? Mungkin saya harus memutar film ini sekali lagi, agar tahu maksudnya.

One thought on “A Serious Man : Seriusnya Bikin Pusing…

  1. Hi Andy.. message of this movie is presented in the beginning of this movie by the quote “Accept with simplicity everything that happens to you.” with this idea the viewer is expected to laugh during the entire movie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s