Movie Review

Resensi Film Milk : “Ketika Milk Dalam Bungkusan Penn”


Judul Film : Milk
Sutradara : Gus Van Sant
Pemain : Sean Penn, Emile Hirsch, Josh Brolin, Diego Luna, James Franco
Studio/Produksi : Focus Features
Durasi : 90 menit

Aku Harvey Milk, dan aku disini untuk merekrut kalian!

Dialog itu menjadi kutipan yang begitu ikonik, ketika Milk berdiri dengan pengeras suaranya dihadapan ratusan pendukungnya untuk menyampaikan orasi perjuangan akan hak para kaum homoseksual di wilayah San Fransisco. Harvey Milk adalah seorang politikus Amerika pertama yang mengakui dirinya gay. Keterlibatannya dalam kancah perpolitikan Amerika ini, berawal dari kepindahannya ke San Fransisco bersama kekasihnya, Scott Smith yang semula menetap di New York. Ketika itu, ia mulai aktif menjadi aktivis persamaan hak asasi para gay. Bersamaan itu pula, ia pun terjun di dunia politik yang mengantarkannya menjadi salah satu tokoh kontroversial di San Fransisco.
Usahanya untuk mencapai kedudukan di pemerintahan, tidaklah semudah yang kita kira. Milk harus mengalami dua kali kegagalan dalam kampanyenya sampai akhirnya berhasil dalam kesempatan ketiganya untuk menduduki kursi anggota San Fransisco Board of Supervisors. Dalam kehidupan poltiknya sebagai seorang supervisor inilah, Milk bertemu dengan Dan White yang juga supevisor di distrik lain. Hubungan kerja mereka tidaklah seakur yang kita bayangkan. Memang awalnya Dan White tampak memberi kesan baik dan simpati kepada sosok Harvey Milk. Namun, ketika Milk gagal memberi dukungan untuk White, hubungan mereka pun seketika berubah menjadi permusuhan sengit. White tampak begitu angkuh dan meledak-ledak ketika berpapasan dengan Milk di setiap kesempatan. Sementara Milk menanggapi respon negatif dari White tersebut dengan senyuman dan kerendahan hatinya yang feminim. Permusuhan sengit diantara keduanya pun berakhir dengan tragis. Dan White menembak mati Milk dengan beberapa hujaman peluru pistolnya di ruangan kantornya sendiri.
Milk merupakan kisah nyata dari riwayat Harvey Milk itu sendiri yang memang pernah hidup sebagai seorang tokoh gay kontroversial pertama di Amerika. Sosok yang berhati mulia dalam memperjuangkan persamaan hak kaum minoritasnya. Dia hadir seperti cahaya untuk kaum homoseksual yang tertindas. Bisa kita samakan, bila kaum kulit hitam mempunyai Martin Luther King Jr. sebagai pahlawan yang mereka junjung, kaum homoseksual memiliki Harvey Milk sebagai tokoh yang memberi kontribusi besar bagi keberadaan kaum mereka.
Film Milk arahan Gus Van Sant ini memang bukan satu-satunya film biografi Harvey Milk yang pernah ada. Sekitar tahun 1984 silam, terdapat versi film dokumenternya yang berjudul The Times of Harvey Milk yang juga sempat memenangkan Oscar. Sementara, di tahun 2008 ini Gus Van Sant menawarkan film biografi Milk yang mampu memaparkan kehidupan Harvey Milk di umurnya ke-40 sampai dia menjadi Supervisor yang kemudian memperjuangkan Proposition 6, yang melarang guru gay dan lesbian mengajar di sekolah.
Sean Peann begitu apik memerankan sosok Harvey Milk. Totalitasnya patut diacungi jempol. Maka tidaklah heran dia memenangkan Aktor Terbaik Oscar tahun ini. Bayangkan transformasi Penn yang begitu menakjubkan dari Jimmy Marcum “Mistic River” yang begitu gagah, arogan, jantan, dan kriminal. Kini dalam Milk, Penn mengolah mimik dan gerak tubuhnya menjadi sedikit feminim ala gay. Gerak-gerik serta cara berbicara yang hampir serupa Milk yang asli. Lihat gaya tangan yang mengepal dan sedikit lentur khas Harvey Milk ketika berpidato di hadapan para pendukungnya, Milk mampu melakukan itu. Meski banyak yang beranggapan aktingnya sebagai ayah yang idiot dalam I am Sam lebih dalam dan menyetuh. Namun, Harvey Milk yang dia perankan sangatlah pas dan wajar. Sean Peann mampu menghadirkan Milk yang gigih dengan kerendahan hati nurani untuk melepaskan belenggu diskriminasi kaum minoritasnya. Milk yang berjuang bukan dengan ambisi untuk memperoleh kemenangan dan kekuasaan. Tapi lebih menekankan kebenaran akan keberadaan kaum homoseksual dan persamaan hak-hak mereka yang telah tertindas. Penn benar-benar menyatu dengan Milk yang murah senyum, kalem, dan selalu riang meski dalam perdebatan sengit sekalipun dengan politikus saingannya. Tengok saja beberapa adegan yang memperlihatkan Penn yang begitu tenang menghadapi lawan politiknya dalam tarung debat, bahkan menyempatkan untuk tersenyum dalam perdebatan yang meledak-ledak.
Selain Sean Penn, tokoh yang patut dipuji aktingnya adalah James Franco sebagai Scott Smith. Meski Dan White yang dijagokan dalam nominasi Oscar untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik. Entah mengapa, James Franco yang lebih memikat dengan penampilannya sebagai Scott Smith, kekasih sejati Harvey Milk di awal perjuangannya sebelum menjadi Supervisor dan hingga hubungan mereka terhenti kala Milk terlalu sibuk dengan kampanye-kempanye politiknya. Smith tetap terus memberi dukungan moril dari jauh terhadap karir dan perjuangan Milk, meskipun keduanya tidak bersama lagi. Terbukti dari keberadaan Smith yang terkadang muncul dalam beberapa kampanye penting atau pesta Milk dan disitulah Franco sebagai Smith tetap memancarkan sikap lembut, kasih sayang, dan keterbukaannya kepada Milk.
Untuk Josh Brolin yang memerankan Dan White lawan politik Milk, sangat susah menangkap transformasi sikapnya. Porsi Brolin sendiri cukup banyak mulai pada adegan-adegan pertengahan menuju akhir. Namun White yang dihadirkan Brolin lebih memforsir kemarahan yang meledak-ledak kepada Milk, tanpa adanya dialog-dialog yang membuat kesan di kepala kita. Malah akan membosankan di beberapa adegan yang khusus menampilkan White. Padahal Dan White merupakan salah satu tokoh kunci dalam film ini.
Anda pun akan kaget ketika menyadari Emile Hirsch yang bermain apik dalam Into The Wild menjadi aktor yang memerankan Cleve Jones, sahabat Milk. Mungkin karena kacamata minus hitamnya yang besar dan penampilan yang begitu berbeda, sehingga tidak dapat mengenali Hirsch sendiri. Satu lagi, Diego Luna juga berkontribusi untuk film ini dengan memerankan kekasih kedua Milk. Memang tidak terlalu memberikan penampilan yang spesial dan memikat.
Gus Van Sant begitu brilian dalam mengemas Milk, dimana didukung pula dengan naskah yang ditulis oleh pemenang oscar, Dustin Lance Black. Gus Van Sant mampu menghadirkan setting kota San Fransisco 70-an. Tampilan yang menakjubkan dengan gedung-gedung lama serta tata kostum dan riasan para pemeran yang maksimal khas era 70-an. Gus Van Sant pun sangat pintar dalam mencari para pemeran untuk film Milk. Entah karena efek penata rias atau memang raut wajah para aktor yang kebetulan hampir serupa dengan tokoh asli Milk maupun teman-temannya itu cukup meyakinkan kita. Coba saja kamu bandingkan wajah dan kostum Sean Penn, Emile Hirsch, James Franco, hingga Josh Brolin dengan cuplikan beberapa foto asli tokoh yang mereka perankan di bagian closing credit. Bukakah mirip?
Untuk masalah editing, Film Milk cukup mengesankan.. Gus Van Sant menyisipkan beberapa rekaman dokumenter seperti siaran televisi yang menyangkut Harvey Milk serta isu-isu homoseksual hingga pemandangan kota San Fransisco tempo dulu. Video-video dokumenter itu disisipkan sangat apik, serasi, serta terkoneksi dengan adegan-adegan film yang ditampilkan. Dialog-dialog yang dihadirkan pun sangat mudah dicerna. Sekalipun itu masalah politik dan isu-isu kaum homoseksual Amerika, namun mampu diperkenalkan secara lugas dari awal. Ada salah satu rekaman dokumenter televisi yang ditampilkan dalam Milk, seketika membuat terpana dari awal film ini. Dalam cuplikan itu terdapat seorang wanita dari San Fransisco Board of Supervisors yang mengadakan konferensi pers dan menyatakan “Sebagai presiden dan supervisor, tugasku membuat pernyataan terhadap supervisor Milk bahwa dia telah ditembak dan dibunuh…….”
Gus Van Sant tidak menginginkan penontonnya tersedu-sedu menyaksikkan perjalanan hidup Harvey Milk. Dia malah menampilkan perjuangan Milk dengan suasana yang penuh guaru dan semangat, tanpa mesti mengharu biru. Sekelumit kisah cinta Milk yang kompleks, dia sisipkan semata-mata ingin menyajikan kehidupan pribadi Milk dengan mendalam.Gus Van Sant berusaha untuk meyakinkan penontonnya bahwa film ini bukanlah film gay, meski memang terdapat beberapa adegan ciuman antar sesama jenis. Namun, bukan itu yang ingin ditonjolkan film ini. Film ini juga bukan film politik, karena Milk hanya ingin memperjuangkan sebuah keadilan Penonton diharapkan mampu meneladani pandangan Harvey Milk yang begitu rendah hati. Bukan tentang persoalan kaum homoseksual, tapi persamaan hak kaum minoritas. Kaum homoseksual hanya sekelumit fakta dari perihal tersebut.
Mungkin akan sedikit bosan di awal film. Namun, jika anda mau mengikuti alur cerita ini, akan membuat anda tersentuh dan terinspirasi hingga semua adegan dalam film itu usai. Adegan slow motion terakhir yang merinding, ketika Dan White menembak mati Milk. Paling menyentuh, ketika sahabat-sahabat karibnya beserta ratusam warga San Fransisco berjalan hening membawa lilin guna memperingati malam kepergian Milk untuk selama-lamanya. Adegan ini tampil dalam bentuk efek dokumenter, entah itu asli rekaman dokumenter atau cuma efek belaka Cobalah anda tonton film ini tanpa pendeskripsian negatif terhadap kaum homoseksual.

2 thoughts on “Resensi Film Milk : “Ketika Milk Dalam Bungkusan Penn”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s